Site icon arthanugraha.com

Haruskan Owner Turun ke Lapangan

Dahlan Iskan pernah menulis, jika perusahaan ingin maju, owner harus ikut turun mengetahui semua proses di perusahaan tersebut.
Kalau melihat perkembangan beberapa perusahaan yang maju, memang sebagian besar owner perusahaan tersebut ikut terjun di lapangan.
Contohnya James Riady yang berbelanja sendiri di jaringan pasar swalayan Hypermarket, alasannya ingin melihat langsung dan merasakan apa yang dirasakan pengunjung Hypermarket.
Gaya ini juga diterapkan oleh Dahlan Iskan, baik ketika masih di Jawa Pos, di PLN dan sebagai menteri negara BUMN.

Saya sempat berpikir, semestinya owner berada pada tataran visioner, dan pelakunya adalah para direksi dan manajer yang berada di bawahnya. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa sering terjadi kesenjangan informasi yang disampaikan. Budaya ABS (asal bapak senang) mungkin yang masih melekat di masyarakat Indonesia yang menginspirasi Dahlan Iskan. karena demi terlihat baik di mata owner, maka yang dilaporkan selalu yang baik-baik saja.

Saya sempat merasa harus berlaku demikian. Pola pikir saya mengatakan, seharusnya kita tidak memberikan masalah kepada atasan kita, karena itu sebagai bawahan harus memecahkan masalah itu terlebih dahulu, lalu hal tersebut dicatat dan dilaporkan. Kecuali sesuatu hal yang membutuhkan pengambilan keputusan yang lebih tinggi, untuk itulah kita digaji oleh perusahaan.

Ada satu pemikiran yang cukup menggelitik saya. Bagaimana jika perusahaan itu adalah perusahaan publik, dimana kepemilikan perusahaan dibagi berdasarkan saham yang dimiliki.
Apa yang harus saya lakukan seandainya saya adalah pemilik saham dari perusahaan tersebut?

Exit mobile version