Site icon arthanugraha.com

Koran Cetak di Masa Kini, kamu masih berlangganan?

koran cetak

http://3.bp.blogspot.com/-a4ieAD1o47c/Th57Fcz-q9I/AAAAAAAAABc/5MtoAZ8X3jA/s1600/loper.jpg

Tadi pagi pada saat membuang sampah saya melihat seorang bapak dengan sepeda motornya mengantarkan koran ke tetangga saya.

Dalam hati saya sebetulnya bertanya masih adakah yang membaca koran cetak pada hari ini?

Cerita lain juga di saat saya tinggal di Tangerang. Tetangga saya juga berlangganan koran dan setia membacanya setiap pagi.

Terakhir kali saya berlangganan koran sekitar sepuluh tahun yang lalu. Bahkan saya sudah memulai berlangganan koran pada saat saya masih kuliah. Saya pernah berlangganan Harian Jawapos, Kompas. Sesekali membeli tabloid Kontan entah itu yang harian, mingguan atau bulanan.

Tetapi itu dulu. Saat ini saya sudah mengalihkan koran cetak pada koran digital. Koran digital ini dalam artian koran yang saya baca melalui notebook (saya tidak terlalu suka membaca di tablet atau HP) tetapi layoutnya masih sama persis dengan koran cetak. Beberapa kali saya membaca publikasi koran yang sudah dikemas dalam bentuk website atau news blog, saya kok kurang begitu suka ya. Kayak ada sesuatu yang hilang.

Salah satu koran digital di Indonesia

Ya ada sesuatu yang hilang kalau sudah dalam bentuk website, yaitu iklan yang bertebaran di koran cetak. Karena saya suka sekali lihat iklan-iklan tersebut. Terkadang bisa mendapatkan inspirasi dari iklan yang ditayangkan.

Membaca koran digital tentu berbeda dengan membaca koran cetak. Terkadang koran digital bisa datang lebih pagi, jadi masih sempat membaca koran di saat pagi. Lagipula sangat praktis, tinggal buka notebook dan scrolling untuk baca. Kelebihan lainnya adalah saya dengan mudah bisa mengcapture berita yang menurut saya menarik, tentu ini juga bisa dilakukan di koran cetak yaitu dengan cara menggunting bagian artikel yang menarik dan menjadikannya kliping.

Akan tetapi koran cetak juga mempunyai sisi lain. Kalau dulu, saya sering melakukan penggalangan dana dengan mengumpulkan koran bekas dan menjualnya, entah apakah sekarang masih ada yang demikian.
Biasanya koran cetak yang kita langgani akan kita taruh dan ditumpuk setelah dibaca dan kadang bikin tidak rapi. Kalau sudah bingung biasanya kita bakalan nyari tukang rombeng yang mau beli koran bekas kita, atau kalau sudah pusing dengan tawar menawar dengan tukang rombeng, ya udah dikasihkan aja koran bekasnya. Apakah saat ini masih ada tukang rombeng yang mau beli koran bekas ya?

Ilustrasi Koran bekas

Kalau koran digital kita tidak perlu bingung menyimpannya. Koran-koran tersebut sudah disimpan di server pihak pengelola. Jadi enak kalau kapan-kapan butuh, tinggal diakses lagi filenya.

Apakah koran cetak akan punah? Bisa saja terjadi. Karena mereka akan beralih ke koran digital. Kalau untuk perusahaan korannya sih gak mungkin tutup.

Sayangnya masih ada barrier di koran digital. Yang pertama tentu minat baca yang rendah, yang kedua, meski pengguna internet sudah banyak, tetapi yang menggunakannya untuk kepentingan literasi itu masih sangat minim dan yang terakhir adalah pembaca koran cetak menurut saya masih berada di kalangan yang memiliki akses terbatas dengan internet.

#Ilustrasi koran digital diambil dari https://www.getscoop.com/berita/wp-content/uploads/2014/04/koran-digital-kompas.jpg
#ilustrasi koran bekas diambil dari https://tratagdotkom.files.wordpress.com/2014/01/1358314843_473469726_1-pembelian-koran-bekas-malang-kota.jpg

Exit mobile version