Site icon arthanugraha.com

Latihan Nyinyir Anies dan Sandi

Saya penasaran banget nonton interview Najwa dengan Anies-Sandi di acara mata Najwa. Karena gak sempat nonton di jam tayangnya, saya nonton melalui channel youtube Mata Najwa. Menarik sekali karena kita tahu bahwa pilkada propinsi DKI Jakarta merupakan pertarungan yang sangat sengit. Beruntung warga Jakarta bisa menikmati proses demokratisasi yang berjalan pada saat pilkada. di acara Mata Najwa yang bertemakan tentang 100 hari kepemimpinan Anies-Sandi, disitu diulas beberapa isu-isu yang ada. Menurut saya Anies sangat bagus menjadi narasumbernya, khas intelektual banget. Mungkin ada beberapa penonton yang sangat puas dengan jawaban-jawabannya ada juga yang sangat tidak puas.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah workshop di Jakarta. Untuk menuju lokasi saya menumpang taxi online. di Perjalanan dari bandara Halim Perdanakesuma menuju hotel tempat berlangsungnya workshop di wilayah kuningan, saya melihat banyaknya pembangunan yang beberapa tahun lalu belum saya lihat. di perjalanan pak driver bercerita mengenai kepemimpinan gubernur DKI jakarta saat ini, sepertinya dari sisi masyarakat DKI Jakarta yang merasa kecewa. Saya hanya bisa menyampaikan bahwa inilah pilihan warga DKI Jakarta, dan semua warga DKI harus menerima hasil dari proses yang demokratis ini.
di sisi lain, saya masih sering mendapati, banyak kawan media sosial saya yang begitu keras mengkritisi Anies-Sandi. Menurut saya, kritis kepada pemerintah adalah suatu kewajiban, akan tetapi jika hanya berbicara melalui media sosial tidak melalui jalur yang benar, maka kita hanya akan mendapatkan dukungan dari user media sosial lainnya. dan apakah akan terjadi perubahan? belum tentu.

Mengkritisi bukanlah sama dengan nyinyir. Saya percaya bahwa ketika seseorang ditempatkan untuk menjadi pemimpin di suatu tempat, maka disitulah tangan Tuhan bergerak. Mengenai gaya kepemimpinan tentu tidak bisa kita salahkan. Sebelum Anies-Sandi kita mengenal Basuki Tjahya Purnama yang disimbolkan dengan ketegasan, seringkali pula memaki-maki di depan publik. Ada yang suka gaya kepemimpinan tersebut ada yang tidak. Atau gaya bu Risma yang sering menyapu sendiri di jalanan.
Bagi yang mempelajari tentang gaya kepemimpinan, pasti sudah paham bahwa sebuah gaya kepemimpinan hanyalah salah satu alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan yaitu visi dan misi yang menjadi komitmennya.

Begitu juga Anies-Sandi teman. seratus hari, bukanlah hal yang cukup untuk menilai kepemimpinan sebuah gubernur. Teman-teman yang bekerja di perusahaanpun pasti sepakat, tidak pernah ada direktur atau manajer yang dinilai hanya di seratus hari dia bekerja, apalagi pekerjaan yang dilakukan sekompleks DKI Jakarta. Yuk warga Jakarta buka hati dan pikiran untuk mendukung kepemimpinan Anies-Sandi, biarkan mereka bekerja dan selalu kritisi mereka. Sampaikan pemikiran teman-teman melalui jalur yang benar agar DKI Jakarta bisa menjadi lebih baik.

Catatan Penting:
Saya bukanlah pendukung Anies-Sandi, KTPpun bukan KTP DKI Jakarta. Juga bukan simpatisan mereka, apalagi simpatisan partai. Saya juga tidak suka dengan cara mereka mendapatkan kekuasaan dengan memanfaatkan isu agama yang sangat rentan dengan konflik horisontal. Tetapi sebagai pemimpin yang telah dipilih secara demokratis, maka kita harus mendukung dan mengkritisi Anies-Sandi

Gambar diambil dari: https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2018/01/30/935044/670×335/mengintip-kebijakan-anies-sandi-yang-tak-sejalan-dengan-polisi.jpg

Exit mobile version