Site icon arthanugraha.com

Berpetualang Ke Masa Lampau Kota Palembang

Berpetualang Ke Masa Lampau Kota Palembang

 Keseimbangan antara kehidupan dunia kerja dan kehidupan pribadi adalah kunci dari kesehatan mental kita sebagai seorang karyawan karena itu tak heran jika akhir pekan adalah waktu yang ditunggu di setiap minggunya. Setelah seminggu bekerja, tak ada salahnya beristirahat sejenak melepaskan diri dari rutinitas dunia kerja.

Bila kita mempunyai waktu libur yang cukup panjang, tak ada salahnya bepergian keluar kota ataupun keluar negeri. Karena liburan kini bukan lagi sebagai keinginan tapi juga kebutuhan kita untuk tetap menjaga kehidupan pribadi dan pekerjaan kita tetap selaras. Saya akui, di awal–awal masa pandemi, saya seperti juga banyak orang lainnya merasa takut untuk untuk bepergian keluar kota apalagi menggunakan moda transportasi umum namun dengan menurunnya angka penularan Covid-19 di negara Indonesia serta semakin banyaknya jumlah masyarakat Indonesia yang sudah di vaksin plus semakin taatnya semua penyedia moda transportasi umum dan tempat wisata untuk memenuhi persyaratan–persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah membuat saya semakin yakin untuk memulai petualangan saya.

Kota yang saya rencanakan untuk dikunjungi kali ini adalah kota terbesar kedua di Pulau Sumatera dan sekaligus sebagai salah satu kota diadakannya SEA Games ke XXVI tahun 2011 dan ASEAN Games pada tahun 2018 selain Jakarta, yaitu kota Palembang.

Palembang adalah bagian dari Patungraya Agung atau kota Metropolitan Palembang, Betung, Indralaya, dan Kayuagung yang merupakan program pemerintah untuk menjadikan beberapa kota ini menjadi kota metropolitan dan pemerintah sudah mewujudkan program ini dengan membangun berbagai infrastruktur yang mendukung seperti bandar udara internasional sampai dengan membuka pelabuhan laut internasional, bahkan kini sudah ada Light Rapid Transit yang menghubungkan dari bandar udara internasional Sultan Mahmud Badarudin 2 ke Jakabaring Sport City.

Namun dibalik rencana pemerintah memajukan kota Palembang dan membuat kota Palembang lebih modern, saya malah tertarik untuk berkunjung ke Palembang di masa lampau dan menikmati daerah yang dulunya merupakan salah satu daerah kerajaan Budha terbesar di Asia Tenggara dan merupakan pusat agama Budha terbesar di Asia Tenggara dan Asia Timur ini.

Nah karena waktu libur kerja saya yang terbatas, maka saya berpikiran untuk membuat itinerary perjalanan saya ke Palembang sesingkat mungkin, Saya berpikiran mengunjungi tempat–tempat wisata bersejarah di Palembang hanya dalam waktu satu hari. Apakah mungkin? Mungkin saja kok.

 Oya, sebelum membuat itinerary, saya sengaja mencari – cari dulu hotel di Palembang yang terletak di daerah kota, tujuannya untuk mengukur waktu yang akan saya habiskan di perjalanan nanti. Seperti biasa, saya langsung membuka aplikasi burung biru atau Traveloka di ponsel saya dan segera mencari Hotel di Palembang yang sesuai dengan budget saya. Karena saya bepergian di masa pandemi, tentunya saya akan memilih hotel yang sudah memiliki jaringan terpercaya dan menerapkan clean accomodation pada akomodasi mereka. Oke, akhirnya pilihan saya jatuh pada salah satu hotel yang terletak di kawasan Ilir Timur, dan kebetulan memang ternyata di daerah Ilir banyak hotel-hotel berbintang yang cukup bagus. Hotel sudah beres berkat Traveloka, yuk kini kita lihat itinerary saya di kota Palembang.

1. Menikmati Sejuknya Taman Wisata Alam Punti Kayu

Taman WIsata Alam Punti Kayu (Foto: ikutilangkahkaki.com)

 Kenapa memilih taman sebagai pembuka petualangan? Sederhana saja alasannya, selain dekat, hanya 5 menit dari hotel yang akan saya inapi, saya berencana bangun pagi, sarapan, lalu berjalan – jalan menikmati udara segar sambil memandangi tanaman hijau dan bercanda dengan monyet atau kelinci yang ada di taman. Menikmati alam tidak hanya membuat kita lebih rileks namun juga menyehatkan tak hanya fisik kita tapi juga mental kita.

 Tiket masuk tempat ini juga tidak mahal kok, hanya berkisar 20.000–30.000 saja jadi otomatis masuklah ke budget saya. Menikmati indahnya pohon – pohon pinus, berselfie ria di jembatan gantung dan bermain wahana air bersama keluarga merupakan nilai plus dari tempat wisata ini. Duh, jadi ga sabar mengajak anak dan istri saya kesana!

2. Wajib Membawa Pecahan Uang 10.000 Lama Ke Museum Balaputradewa

Museum Balaputradewa (Foto: kompas.com)

 Tujuan saya selanjutnya adalah museum Balaputra Dewa yang hanya berjarak 15  menit menggunakan mobil dari taman wisata alam Punti Kayu dan saya wajib membawa pecahan lama uang 10.000 ke tempat ini.

 Mungkin anda bertanya – tanya, kenapa harus membawa uang 10.000 ke museum Balaputra Dewa? Hehehe, sederhana saja alasannya, karena saya ingin melihat secara langsung rumah limas yang gambarnya ada di pecahan uang 10.000 yang lama.

 Selain Rumah Limas khas Sumatera Selatan ini, Museum Balaputra Dewa juga memamerkan berbagai benda bersejarah dari jaman prasejarah hingga ke jaman penjajahan Belanda lho. Jadi disini kita bisa melihat berbagai patung, batu antik dari jaman megalitikum, dan berbagai prasasti baik dari batu maupun berupa teks dengan bahasa sanksekerta dari jaman Sriwijaya dan kesultanan Palembang. Semua harta bersejarah itu bisa kita nikmati dengan mata langsung hanya dengan membayar tiket sebesar Rp.2.000,-  saja lho, Menarik, bukan?

3. Makan Siang Di Warung ABA

Warung ABA (foto: suzannita.com)

Karena sudah berada di kota Palembang maka tak lengkap rasanya tanpa menikmati kuliner khas daerah ini, Meskipun sebelumnya pengetahuan kuliner saya tentang Palembang hanya sebatas pempek saja tapi setelah saya bertanya denga salah satu kawan saya yang berdomisili di kota Palembang, ternyata ada banyak kuliner yang bisa dinikmati selain pempek, dan Warung ABA adalah salah satu tempat yang banyak dia rekomendasikan untuk menikmati rasa autentik dari hidangan khas Palembang. Kebetulan tempat ini juga hanya membutuhkan dua puluh menit berkendara dengan mobil dari museum Balaputra Dewa, jadi bisalah membantu lambung tengah yang sudah keroncongan karena minta dikasi makan siang.

 Hidangan di tempat ini sebagian besar based on santan ya jadi bagi saya yang suka rasa gurih santan cocok banget. Menunya diantara lain Burgo (Semacam pancake yang terbuat dari tepung beras dicampur tapioka dan garam yang dihidangkan bersamaan dengan kuah santan dan ikan gabus), Lakso (semacam mie yang juga terbuat dari tepung beras dan dihidangkan dengan cara yang sama dengan burgo yaitu disertai kuah santan dan ikan gabus), Laksan (mirip dengan pempek yang juga berbahan dasar tepung dan ikan tengiri namun diris pipih dan dihidangkan dengan kuah santan), serta banyak menu menarik lainnya.

Untuk harga makanan dan minuman di Warung ABA ini menurut ulasan berberapa customer google yang saya baca sih termasuk murah, jadi ngiler nih, pengen lekas–lekas menikmati Laksan di Warung ABA.

4. Meneruskan Petualangan Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (foto: merahputih.com)

Setelah kenyang dengan hidangan khas Palembang, waktunya memulai petualangan lagi, kali ini saya rencanakan berkendara 20 menit lagi ke arah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II untuk melihat keindahan desain arsitektural klasik Museum yang dibangun dengan perpaduan gaya klasik Eropa sekaligus unsur tropis Indonesia.

Di museum ini tersimpan berbagai peninggalan perabot kuno, kain serta senjata-senjata kuno dari jaman Kesultanan Palembang. Di areal museum ini juga ada Beteng Koto Besak yang adalah benteng peninggalan keraton Palembang di abad 18, namun karena sekarang benteng ini digunakan sebagai Kantor Kesdam II Sriwijaya jadi tidak bisa dimasuki oleh umum.

Oya, museum Sultan Mahmud Badaruddin II  ini terletak di tepian sungai Musi lho jadi dari museum ini kita bisa melihat jembatan Ampera.

5. Mengakhiri Petualangan Sambil Menikmati Gemerlap Lampu Jembatan Ampera Di Riverside Restaurant.

Riverside Restaurant Palembang (foto: merahputih.com)

Berada di Palembang takkan lengkap tanpa makan ditemani keindahan sungai Musi dan jembatan Ampera maka saya rencanakan menutup petualangan saya di kota Palembang dengan menikmati hidangan di Riverside Restaurant yang memang terletak di tepi sungai Musi. Sudah terbayang keindahan lampu yang menghiasi Jembatan Ampera dalam benak saya.  Menikmati hidangan seafood favorit saya di restoran yang menyediakan berbagai menu dari seafood, ayam, daging, dimsum, bahkan sayur ini.

Bagaimana? Tertarik berkunjung ke Palembang juga seperti saya?. Kalau tertarik, jangan lupa buka aplikasi Traveloka untuk mencari pilihan hotel di Palembang yang sesuai dengan budget dan keinginan kamu ya. Sampai jumpa lagi di coretan saya lain ya temans.

Exit mobile version